Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memandang Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing (IUUF) sebagai kejahatan transnasional terorganisir atau Transnational Organized Crime.

Menurut Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Sjarief Widjaja, pandangan Susi ini mulai didukung banyak negara lain. Sebab, Indonesia sudah membuktikan hal itu saat melakukan penangkapan kapal asing.

Apa yang dilakukan KKP menjadi contoh gerakan di seluruh dunia untuk IUUF,” ujarnya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, Senin (23/10).

Dia menyebut, negara lain yang mendukung pandangan Susi Pudjiastuti ialah Timor Leste, Australia, Vietnam, Filipina, Norwegia, Afrika Selatan, Malaysia, Papua New Guinea, Thailand, dan China yang dibuktikan dengan rencana aksi tiap negara.

China mulai melakukan moratorium kapalnya untuk ditata, Malaysia sudah mulai membuat semacam Satgas 115 untuk menindak IUUF,” papar Sjarief.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja. (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)

Menurut dia, selama ini korporasi yang terbukti mencuri ikan terdiri dari pelaku usaha di beberapa negara. KKP sulit untuk menangkap pemilik kapal karena berkebangsaan negara lain, sehingga hanya nahkoda dan anak buah kapal yang ditindak.

Bisnis ini memang Transnational Organized Crime, kadang terkendala hukum lintas negara. Ketika kami memperkenalkan ini, muncul dukungan negara lain,” ucapnya.

Sjarief menambahkan, pemberantasan illegal fishing harus dilakukan banyak negara untuk memudahkan penindakan pelaku lintas negara. Dengan demikian, diharapkan ikan yang ada di laut juga bisa dinikmati anak cucu di masa depan.

Penerbit Artikel :



Kirim Artikel

Gimana Reaksi Kamu?

Gimana Pendapat Kamu ?

Kamu akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN .
Silahkan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.



atau Komentari via Facebook dibawah


Komentar via Community




Kamu mungkin juga suka ini